Kamis, 29 November 2012

BUAH KAS DEMAK BLIMBING DAN JAMBU AIR

                  BUAH KAS DEMAK BLIMBING DAN JAMBU AIR




Buah belimbing merupakan buah khas Demak yang terdiri dari tiga jenis yakni kapur, kunir  dan jingga. Sedangkan jambu air yang dikembangkan yakni jambu merah delima dan jambu citra yang memiliki manis buah dan rasa khas berbeda dengan hasil dari daerah lain. Kedua buah tersebut dikembangkan dikelurahan Singorejo, Betokan, dan Tempuran serta sebagian wilayah lain.

Pada tahun 2004 jumlah tanaman belimbing sebanyak 71.538 batang dengan hasil produksi 30.640 kwintal. Tanaman ini biasa dipasarkan dalam bentuk segar ke beberapa daerah serta menembus pasar-pasar swalayan. Saat ini telah dibuka agrowisata buah yang telah menjadi ciri khas Kabupaten Demak ini.
Belimbing demak yang memiliki ukuran besar dengan rasa segar dan agak manis ini saat ini banyak dikonsumsi masyarakat luas. Apalagi buah ini juga dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan.
 Para pedagang jus buah yang banyak bertebaran di berbagai daerah, kini tidak lagi sungkan memajang belimbing sebagai menu pentingnya. Bisa dijus sendirian, namun juga nikmat bila dicampur dengan apel, mangga, atau anggur merah. Harga belimbing demak juga tidak terlalu mahal, sekitar Rp10.000/kg. Wsn

                                        BUAH KHAS DEMAKJambu Air





Para pedagang jus buah yang banyak bertebaran di berbagai daerah, kini tidak lagi sungkan memajang belimbing sebagai menu pentingnya. Bisa dijus sendirian, namun juga nikmat bila dicampur dengan apel, mangga, atau anggur merah. Harga belimbing demak juga tidak terlalu mahal, sekitar Rp10.000/kg. Wsn






Tanaman jambu air
diperkirakan mencapai sebanyak 30.795 batang dengan produksi 20.268 kwintal. Terdapat beberapa desa yang merupakan sentra jambu ini yang dijadikan agro wisata. Selain itu produksi tanaman ini juga menembus pasar-pasar swalayan di kota-kota besar.
Selain buah belimbing dan jambu air, buah lain yang banyak ditemukan di Demak yakni pisang dan mangga. Tanaman pisang di wilayah ini mencapai sebanyak 968 pohon (rumpun) dengan hasil produksi 87.852 kwintal tiap panen. Pisang menjadi salah satu komoditas andalan yang juga mencapai beberapa daerah di Indonesia. Tanaman ini terus dikembangkan untuk menjadi nsalah satu andalan agro Demak.
Tanaman mangga sebanyak 115.220 batang dengan hasil produksi 60.031 kwintal. Buah jenis ini biasanya dipasarkan dalam bentuk buah segar ke beberapa kota besar. Hasil bumi berupa buah ini menjadi aset perkebunan yang memberikan banyak pemasukan bagi daerah. Wsn


MAKANAN GANDOS NAISI CEKER NASI KUNING KHAS DEMAK



MAKANAN GANDOS NAISI CEKER NASI KUNING KHAS DEMAK

Tidak perlu susah susah mencari sarapan pagi di Kota Demak, sebab Alon-alon Demak jika pagi hari menyediakan berbagai jajanan maupun makanan ringan, seperti nasi ceker, nasi kuning, nasi gudeg, nasi liwet, gandos, dll.

IKAN GEREH MAKANAN KAS DEMAK




ikan ini di buat oleh ibu-ibu rumah tangga oleh warga demak terutama di kecamtan wedung desa wedung warganya setiap hari membuat ikan gereh atau di sebut dendeng ikan ..

Bahan Baku

Hampir semua jenis ikan dari berbagai perairan dapat dibuat menjadi dendeng, kecuali ikan yang terlalu banyak mengandung lemak.
Jenis-jenis ikan: ikan belanak, mujair, kuro, kuniran, japuh, tongkol, tenggiri cucut, udang dan cumi-cumi
Bumbu-bumbu yang digunakan
- Gula pasir / gula merah 20%
- Garam 4%
- Asam 4%
- Ketumbar 5%
- Laos 5%
- Jahe 2%
- Bawang merah 1,5%
- Bawang putih 1%
Persentase bumbu-bumbu tersebut dihitung dari berat ikan
Pengolahan bumbu ekstrak
a. Ketumbar, garam, bwang merah,bawang putih dihaluskan
b. Laos dan jahe diparut / ditumbuk halus
c. Asam dicairkan dengan 5 sendok makan air kemudian diaring (diambil airnya)
d. Panaskan gula pasir / gula merah dengan 1 – 1 ½ gelas air hingga mencair, kemudian masukkan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan, aduk hingga tercampur, angkat dan saring (ambil ekstraknya)

Rabu, 28 November 2012

A. Budaya Grebeg Besar

A. Budaya Grebeg Besar
Bentuk keramaian yang dikenal dengan nama GREBEG BESAR adalah murni hasil ciptaan para wali. Pelaksanaannya dimulai setelah walisongo angkatan I mengadakan siding di serambi Masjid Agung Ampel Dento Surabaya, keputusannya sebagai berikut :

“NGENANI ANANE SOMAWONO KIPRAH MEKARE TSAQOFAH HINDU ING NUSA SALALADANE, JUWAJIBAN PORO WALI AREP ALAKU TUT WURI ANGISENI. DARAPUN SUPOYO SANAK-SANAK HINDU MALAH LEGO-LEGOWO MANJING ISLAM.

Artinya : Dengan adanya perkembangan ajaran Hindu di pulau wilayah ini, tugas para wali dakwah menyesuaikan adat istiadat setempat sambil mengisi nafas Islam, agar supaya masyarakat Hindu hatinya rela dan tulus ikhlas masuk Islam.


Keputusan siding ditulis Sunan Bonang dengan Huruf Arab Gondil, bentuknya notulen singkat. Pada tahun 1938 M, masih tersimpan di dalam mushola Astana Tuban dirawat oleh juru kunci yang bernama Raden Panji Soleh.

Sejak itu, Sunan Kaljaga mulai bertindak sebagai pelopor pembaharuan (Reformis) dalam menyiarkan agama Islam. Untuk mengimbangi kepentingan masyarakat, beliau ciptakan jenis kesenian baru yang disebut Wayang Purwo (wayang kulit). Semua jenis kesenian rakyat yang hampir mati karena Majapahit runtuh, dibangkitkan supaya hidup kembali. Tujuannya untuk mencari simpati masyarakat dan jangan sampai terjadi shock culture pada orang-orang yang sudah kuat religinya dengan agama tertentu. Hal itu dibenarkan juga oleh Dr. W.F Stutterheim dalam tulisannya “Culture Geschidenis Van Indonesia”.

Pada zman kejayaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi Brawijaya V, pernah mengadakan upacara Sradha dibuat spektakuler. Sebab upacara tersebut dibunyikan gamelan Prabu Kertabhumi Brawijaya V yang bernama Kanjeng Kyai Sekar Delima.Dulu dibuat oleh Raden Panji Inu Kerta Pati (Panji Semirang) dari kerajaan Jenggala secara turun temurun menjadi milikr raja-raja Majapahit.
Setelah Majapahit runtuh, semua benda pusaka milik Prabu Kertabhumi Brawijaya V diboyong ke Demak. Termasuk gamelan Kanjeng Kyai Sekar Delima yang terdiri dari : “ Bonang Sapangkon, Demung dua pangkon, Kempyang Sepangkon, Saron Barung dua pangkon, Saron Penerus dua pangkon, bedhug satu buah, dan Gong Besar Sakti”.

Apabila gamelan itu ditabuk/dibunyikan, Bonang menggambarkan sorang imam yang berdo’a, sedangkan Demung, Kempyang, Saron, dan lain-lainnya menggambarkan makmum yang sedang meng-amin-I (membaca Amin).

Supaya da’wahnya para wali di dalam menyiarkan Islam dapat menarik perhatian umum, gamelan Kanjeng Kyai Sekar Delima dimanfaatkan. Tetapi sudah dilengkapi dengan seperangkat gamelan baru yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Lalu gamelan dibagi menjadi dua perangkat, yang seperangkat dinamakan Kajeng Kyai Sekati dan seperangkatnya lagi dinamakan Kanjeng Nyai Sekati. Menurut wasiat Sunan Kalijaga, bahwa sampai kapanpun keberadaan gamelan tersebut harus sejodho (sepasang). Oleh karena itu, Keraton Kasunanan Surakarta yang hanya menerima pembagian gamelan Kanjeng Kyai Sekati, lalu membuatkan pasangan baru (duplikat gamelan Kanjeng Kyai Sekati) dan diberi nama “Guntur Madu” yang biasanya terletak di serambi masjid bagian selatan dan “Guntur Sari” yang ada di bagian utara.
Begitu pula, untuk Keraton Kasultanan Yogyakarta, oleh karena hanya menerima gamelan Kanjeng Nyai Sekati, lalu membuatkan pasangannya (duplikat Kanjeng Kyai Sekati), namanya Guntur Madu dan Nogo Wilogo.

Untuk Kasultanan Cirebon yang tidak mendapatkan gamelan Kyai Sekati kemudian dibuatkan oleh Sunan Kalijaga yang kebetulan masih ada ikatan keluarga dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon.
B. Grebeg Besar dan Sejarahnya
Kata bahasa Jawa Garebeg, Grebeg, Gerbeg, bermakna : suara angin yang menderu. Kata bahasa Jawa (h) anggarebeg, mengandung makna mengiring raja, pembesar atau pengantin. Grebeg bisa juga diartikan digiring, dikumpulkan, dan dikepung. Jadi grebeg bisa berarti dikumpulkan dalam suatutempat untuk kepentingan khusus. Adapun Grebeg Besar seremonial yang terkenal di Demak, kata “Besar” adalah mengambil nama bulan yaitu bulan Besar (Dzulhijah).

Maka makna Grebeg Besar adalah kumpulnya masyarakat Islam pada bulan Besar, sekali dalam setahun yaitu untuk suatu kepentingan da’wah Islamiyah di Masjid agung Demak.
Cerita tutur mewartakan bahwa dahulu kala para raja Jawa selalu menyelenggarakan selamatan kerajaan (bahasa Jawa = wilujengan nagari) setiap tahun baru dan disebut Rojowedo, artinya kitab suci raja atau kebajikan raja. Disebut pula, ada yang mengatakan Rojomedo, artinya hewan korban kerajaan.
Tujuan selamatan kerajaan yang hakikatnya adalah suatu cara korban agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan perlindungan, keselamatan kepada raja dan kerajaan serta rakyatnya.
Dalam peristiwa itu, rakyat datang menghadap raja untuk menyampaikan sembah baktinya. Raja keluar dari keratin lalu duduk di singgasana keemasan (bahasa jawa=dhampar kencono) di bangsal Ponconiti. Penampilan raja untuk menerima sembah bakti rakyat yang datang mengahadap (bahasa jawa=sowan), diiringi (bahasa jawa=ginarebeg) oleh para putra dan segenap punggawa Keraton.
Dalam Babad Jawa Jaka Tingkir dijelaskan: Sudah menjadi kelaziman pada setiap peringatan Maulid Nabi selalu diadakan pembacaan riwayat Nabi, pembacaan syair lagu-lagu yang merdu silih berganti. Seusai peringatan, dilanjutkan musyawarah antara Sultan Demak dan para Wali Agung, kemudian dilanjutkan tahlilan dan akhirnya santap bersama.

Keesokan harinya diadakan upacara grebegan, Sultan Demak mengadakan paseban di setinggil Demak.
Dalam grebegan tadi, Sultan di singgasana Manikwungu menghadap ke utara, kiri kanan Sultan duduk para wali pawingking, para pandhita berada di Masjid sedangkan para Ulama, abid (orang yang ahli ibadah), sulaka (salik yaitu orang yang meng-fokuskan hidupnya hanya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT), puhaka (ahli fiqih/syariat Islam) berada di serambi masjid dan halaman. (Babad Jaka Tingkir, 1981:78)
Tak lama setelah Raden Fatah dinobatkan menjadi Sultan pertama kasultanan Demak dengan gelar Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panatagama, baginda langsung menghapuskan adat menyelenggarakan upacara kurban yang selalu dilakukan oleh para raja Jawa-Hindu terdahulu. Sebab adat yang seperti itu, dinilai bertentangan dengan aqidah Islam.
Penghapusan adat itu menimbulkan keresahan sebagian kalangan rakyat, sebab rakyat yang selama berabad-abad turun-temurun sudah terbiasa hidup dengan adat dari kepercayaan lama, belum dapat menerima sikap rajanya yang baru itu. Keresahan tersebut menimbulkan gangguan keamanan Negara, sebab khawatir timbul wabah penyakit menular.

Atas saran para wali, adat kepercayaan lama itu agar dihidupkan kembali, namun diberi warna keislaman yaitu hewan kurban disembelih menurut aturan agama Islam.
Awal dan akhir doa selamatan berupa do’a Islam yang dipanjatkan oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang.
Para wali giat berda’wah, penyebaran agama Islam awalnya tidak banyak mengalami kemajuan. Hal ini bisa dilihat dengan masih sedikitnya jumlah santri. Sebagian besar rakyat terutama masyarakat pedesaan enggan untuk mengucapkan syahadat sebgai pernytaan memeluk agama Islam.
Akhirnya para wali bermusyawarah, dan mereka sependapat untuk menginsyafkan rakyat akan kebenaran ajaran agama Islam, haruslah dilakukan secara bertahap, dengan penuh kearifan, bersikap sopan santun, ramah tamah dalam berda’wah dan tanpa mencela adat serta unsur-unsur kebudayaan rakyat bahkan seharusnya memanfaatkan unsur-unsur kebudayaan rakyat sebagai sarana da’wah, terutama dengan, dengan memanfaatkan bahasa, adat-istiadat dan kesenian rakyat. Para wali menemukan taktik da’wah “TUT WURI ANGISENI” Artinya memakai dan menghormati kebudayaan yang ada, untuk memudahkan syiar agama Islam. Istilah lainnya, JOWO DIGOWO, ARAB DIGARAP.
Sunan Kalijaga mengetahui bahwa pada waktu itu rakyat menyukai perayaan dan keramaian yang dihubungkan dengan upacara keagamaan. Apalagi jika perayaan dan keramaian  ada juga irama gamelannya, tentu saja akan sangat menarik perhatian rakyat untuk datang melihatnya. Akhirnya timbullah gagasan Sunan Kalijaga supaya kerajaan menyelenggarakan perayaaan dan keramaian setiap menyongsong hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal.
Untuk menarik perhatian rakyat agar mau datang ke Masjid Besar, maka dibunyikanlah gamelan yang ditempatkan di halaman masjid. Setelah berkumpul maka para wali dapat berda’wah langsung dihadapan rakyat.

Meski membunyikan gamelan di lingkungan masjid itu ada yang menghukumi makruh, namun dengan menggunakan azas manfaat dan hikmah demi kelancaran syiar Islam, maka Sunan Kalijaga dari ijtidahnya, berani menghukumi mubah/boleh dikerjakan. Pendapat Sunan Kalijaga itu dapat diterima majelis Walisongo. Sultan Fatah pun akhirnya menyetujui pelaksanaan gagasan Sunan Kalijaga.
Maka dalam bulan Rabiul Awal, 12 (dua belas) hari sebelum kelahiran Nabi, diselenggarakan perayaan dan keramaian yang disebut Sekaten. Di halaman Masjid Besar didirikan tempat khusus untuk menaruh dan membunyikan gamelan yang disebut pagongan. Pagongan adalah tempat gong (gamelan) yang dibuat oleh Sunan Giri. Konon sebagian dari gendhing-gendhing (lagu) gamelan diciptakan oleh Sunan Giri dan sebagian lagi oleh Sunan Kalijaga.

Selama 12 hari (dua belas) hari gamelan diperdengarkan terus menerus, kecuali pada waktu-waktu sholat dan pada malam jum’at sampai lewat sholat Jum’at.
C. Tradisi Grebeg Besar
Grebeg Besar dan Sejarah Kota Wali tak bisa disangkal lagi jika membuat orang Demak akan membanggakan dirinya sebagai warga Kota Wali. Catatan sejarah Kabupaten Demak memang tidak lepas dari perjuangan para wali (walisongo) dalam kegiatan menyebarkan agama Islam pada abad XV, yaitu keberadaan Demak sebagai pusat kerajaan Islam (Kasultanan Bintoro) di Pulau Jawa dengan ”masterpieces”nya adalah Sunan Kalijaga dan Sultan Fatah yang diakui merupakan tokoh-tokoh besar dan berpengaruh dalam lintas sejarah Kabupaten Demak.

Tidaklah mengherankan jika kemudian beragam acara ritual yang dimulai atau diperkenalkan oleh kedua tokoh tersebut masih berlangsung sampai saat ini dan menjadi semacam upacara ritual yang selalu dinantikan orang, tidak hanya oleh para warga kota wali sendiri tetapi juga dari luar daerah.
Pada masa Sunan Kalijaga menjadi penasihat spiritual Sultan Bintoro, khususnya pada masa emas kejayaan pemerintahan Sultan Fatah. Beliau antara lain menyelenggarakan Grebeg Besar sebagai media da’wah. Tradisi ini diselenggarakan tiap tanggal 10 Dzulhijjah bersama dengan datangnya peringatan Hari Raya Idul Adha (Qurban).

Hanya saja sebetulnya Grebeg Besar ini pada masa pertama kalinya mulai dilaksanakan di Demak, tidak hanya sekali setahun pada saat Idul Adha. Tetapi memang menurut catatan sejarahnya, semula tradisi Grebeg Besar ada empat, yaitu Grebeg Maulid, Grebeg Dal, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar.
Adapun sampai kini masih berlangsung di Demak adalah Grebeg Besar. Sementara di luar Grebeg besar yang kini masih dilestarikan adalah di kerajaan Solo, Yogyakarta dan Cirebon.
Adapun Grebeg Besar sampai sekarang masih menjadi bagian dari tradisi bernilai jual (selling point)n yang rutin diselenggarakan, tampaknya dipengaruhi oleh beberapa factor utama yaitu sosio-ekonomi-religi.
D. Tata Cara Perayaan Grebeg Besar

Acara Grebeg Besar Demak mempunyai urutan tata cara perayaan sebagai berikut :
1. Diawali dengan saling bersilaturahmi antara pihak Kasepuhan Kadilangu dengan Bupati dan Wakil Bupati Demak, beserta jajaran Muspida Demak. Bupati Demak bersama rombongan bersilaturahmi ke Kasepuhan Kadilangu yang ditempatkan di Pendopo Noto Bratan Kadilangu Demak. Selanjutnya, sesepuh Kadilangu dan keluarga Kasepuhan bersilaturhmi ke Kabupaten Demak dan biasanya mereka diterima Bupati di ruang tamu Kadipaten Demak.

2. Setelah silaturahmi, Bupati, Wakil Bupati, DPRD, Muspida Demak dan jajaran pemerintah Kabupaten Demak ziarah ke makam-makam leluhur Sultan Bintoro di kompleks Masjid Agung Demak, dan dilanjutkan ziarah ke makam Sunan Kalijaga.

3. Kemudian Bupati, Wakil Bupati, DPRD, Muspida Demak meresmikan pembukaan keramaian Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah.

4. Pada malam menjelang Idul Adha diadakan upacara Tumpeng Walisongo/Sembilan yang menggambarkan jumlah 9 wali (walisongo), diserahkan Bupati Demak kepada Takmir Masjid Agung Demak untuk dibagikan kepada para pengunjung.

5. Tepat pada tangaal 10 Dzulhijjah diadakan acara penjamasan Kotang Ontokusumo yang dimulai setelah selesai Sholat Idul Adha. Penjamasan dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak dengan penyerahan minyak jamas oleh Bupati kepada Manggala Prajurit yang akan membawanya ke Kadilangu dengan dikawal prajurit patang puluhan yang berjalan kaki dengan berjarak 2 Km. Bupati sekeluarga beserta para pejabat Pemerintah kabupaten Demak turut mengantar minyak jamas dengan menaiki kereta Kencana. Sesampainya di Kadilangu, minyak jamas diterima oleh Sesepuh Kadilangu selanjutnya digunakan untuk menjamas Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Crubuk.
Sumber: Matahari Terbit di Glagahwangi, 2006

BAKSO BALUNGAN


Bila bosan dengan bakso biasa, cobalah mencicipi bakso balungan yang banyak dijajakan pedagang di sekitar Alun-alun Demak. Ada belasan pedagang bakso balungan.

Disebut balungan karena selain berisi bola daging sapi, penjaja bakso juga menyertakan tulang dan iga sapi ke dalam mangkuk bakso. Untuk bisa menikmati bakso balungan, perlu kerja keras. Konsumen harus rela memegang langsung tulang sapi untuk bisa menikmati lapisan daging yang melilit pada “balung” sapi itu. Daging sapi yang tersisa di tulang memang tidak terlalu tebal, namun bisa membuat ketagihan. Sunsum berasa gurih yang ada di rongga tulang bisa dikeruk pakai sendok atau diisap.

Bila kadar kolesterol jahat (LDL) Anda masih rendah, tidak ada salahnya mencicipi bakso balungan. Namun, bila hanya menginginkan bakso tanpa tulang, makanan berkuah yang disajikan bersama mi dan daun sawi itu bisa menjadi ganjal perut ketika lapar menyerang. Harganya tidak beda dengan semangkok bakso di pinggiran jalan. (azm)

sumber : http://www.promojateng-pemprovjateng.com/

Museum Masjid Agung Demak


Sesuai dengan namanya, Museum Masjid Agung Demak terletak di dalam kompleks Masjid Agung Demak dalam lingkungan alun-alun kota Demak. Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali Sembilan atau Wali Songo. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa. Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.


Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, bertuliskan “Condro Sengkolo”, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Raden Fattah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 ( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Bisa disimpulkan, Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.

Di museum ini utamanya disimpan bagian-bagian soko guru yang rusak (sokoguru Sunan Kalijaga, sokoguru Sunan Bonang, sokoguru Sunan Gunungjati, sokoguru Sunan Ampel), sirap, kentongan dan bedug peninggalan para wali, dua buah gentong (tempayan besar) dari Dinasti Ming hadiah dari Putri Campa abad XIV, pintu bledeg buatan Ki Ageng Selo yang merupakan condrosengkolo berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani yang berarti angka tahun 1388 Saka atau 1466 M atau 887 H, foto-foto Masjid Agung Demak tempo dulu, lampu-lampu dan peralatan rumah tangga dari kristal dan kaca hadiah dari PB I tahun 1710 M, kitab suci Al-Qur’an 30 juz tulisan tangan, maket masjid Demak tahun 1845 – 1864 M, beberapa prasasti kayu memuat angka tahun 1344 Saka, kayu tiang tatal buatan Sunan Kalijaga, lampu robyong masjid Demak yang dipakai tahun 1923 – 1936 M.
Kunjungan:

Museum ini buka tiap hari dari Senin hingga Minggu jam kerja (08.00-16.00) dengan mengisi kas untuk pemeliharaan koleksi secara sukarela.
Koleksi antara lain :

Pintu bledeg buatan Ki Ageng Selo tahun 1466 M, dibuat dari kayu jati berukiran tumbuh-tumbuhan, suluran, jambangan, mahkota, dan kepala binatang (naga?) dengan mulut terbuka menampakkan gigi-giginya yang runcing. Menurut cerita, kepala naga tersebut menggambarkan petir yang kemudian dapat ditangkap oleh Ki Ageng Selo.
PENINGGALAN KERAJAAN DEMAK YANG MASIH TERSIMPAN DI MUSEUM MASJID AGUNG MELIPUTI :
  • Soko Majapahit,
tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Fattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.
  • Pawestren,
merupakan bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jama’ah wanita. Dibuat menggunakan konstruksi kayu jati, dengan bentuk atap limasan berupa sirap ( genteng dari kayu ) kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, di mana 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai yang membujur ke kiblat berukuran 15 x 7,30 m. Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A.Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan motif ukiran Maksurah atau Kholwat yang menerakan tahun 1866 M.
  • Surya Majapahit,
merupakan gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Para ahli purbakala menafsirkan gambar ini sebagai lambang Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka, atau 1479 M.
  • Maksurah,
merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang memiliki nilai estetika unik dan indah. Karya seni ini mendominasi keindahan ruang dalam masjid. Artefak Maksurah didalamnya berukirkan tulisan arab yang intinya memulyakan ke-Esa-an Tuhan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.
  • Pintu Bledeg,
pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman Wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
  • Mihrab atau tempat pengimaman,
didalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti“Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit.
Dampar Kencana,
benda arkeologi ini merupakan peninggalan Majapahit abad XV, sebagai hadiah untuk Raden Fattah Sultan Demak I dari ayahanda Prabu Brawijaya ke V Raden Kertabumi. Semenjak tahta Kasultanan Demak dipimpin Raden Trenggono 1521 – 1560 M, secara universal wilayah Nusantara menyatu dan masyhur, seolah mengulang kejayaan Patih Gajah Mada.
  • Soko Tatal / Soko Guru,
yang berjumlah 4 ini merupakan tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Yang berada di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan yang berdiri di timur laut karya Sunan Kalijaga Demak. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.
  • Situs Kolam Wudlu.
Situs ini dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi.
  • Menara,
bangunan sebagai tempat adzan ini didirikan dengan konstruksi baja. Pemilihan konstruksi baja sekaligus menjawab tuntutan modernisasi abad XX. Pembangunan menara diprakarsai para ulama, seperti KH.Abdurrohman (Penghulu Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H.Moh Taslim, H.Aboebakar, dan H.Moechsin .
Sumber : Museum Ronggowarsito (www.museumronggowarsito.org)

Selasa, 27 November 2012

TENUN DESA TANDUNANAN MELENGKAPI HOM INDUSTRI

Industri rumah tangga di Kabupaten Demak yang berhubungan dengan kebutuhan sandang belakangan ini semakin bergeliat. Home industri yang sudah ada seperti celana dalam di Desa Cabean, batik tulis Karangmlati, bordir khas Desa Pasir Mijen, juga kerudung ‘made in’ Jungsemi, kini semakin lengkap setelah puluhan warga Desa Tedunan Kecamatan Wedung menekuni usaha pembuatan tenun.
Di desa berpenduduk mayoritas nelayan itu, pembuatan tenun dilakukan oleh kaum perempuan. Sedikitnya seratus orang telah menekuninya dalam dua tahun belakangan. Sejauh ini mereka masih membuat tenun dengan model-model pasaran. Maklum, sarana peralatan yang mereka punyai masih tergolong ala kadarnya.
“Kami baru bisa membuat tenun model Troso, SBY dan Obama. Untuk membuat model sendiri belum bisa lantaran alat yang kami miliki belum mumpuni. Alat itu awalnya kami beli dari Jepara, memang khusus untuk membuat model-model khas sana. Sedangkan kalau ingin mengembangkan model sendiri, kami perlu merombak peralatan. Itu yang belum kami bisa,” terang Ahlada, salah seorang perajin tenun Desa Tedunan.
Menurut wanita pemilik usaha tenun di RT 5/RW 3 tersebut, sejauh ini baru dirinya yang menjual hasil produksi langsung ke konsumen. Adapun model yang ia buat adalah SBY dan Obama. Sedangkan sebagian besar perajin tenun Tedunan menyetorkan hasil produksinya ke Jepara. Karena itulah mereka lebih memilih membuat model Troso.

“Kalau setor ke Jepara, harganya kurang sesuai. Makanya saya menjual langsung ke konsumen. Untuk tenun model SBY ukuran 200 cm x 40 cm, masih bisa laku Rp 60 ribu per lembar. Kemudian model Obama dengan ukuran yang sama, harganya bisa mencapai Rp 90 per lembar. Bahkan yang kualitas bagus, yakni yang dibuat dengan benang mengkilat, harganya bisa mencapai Rp 120 per lembar,” terang Ahlada.
Dikatakan, dalam satu bulan ia mampu memproduksi tenun sebanyak 150 lembar. Sejauh ini proses produksi ia lakukan sendiri menggunakan satu unit alat. Adapun untuk bahan-bahan, ia membelinya di Troso Jepara. Agar lebih menghemat biaya transportasi, pembelian bahan ia lakukan sebulan sekali.
“Karena sudah kenal baik dengan salah seorang pemilik toko bahan tenun, kalau pas tidak pegang uang sayapun boleh bon. Setelah tenun-tenun saya laku, saya langsung melunasi bon dan mengambil bahan-bahan lagi. Pokoknya uang berputar terus. Maklum, usaha saya ini masih belum begitu besar,” ungkapnya.
Pemasaran Lancar

Ahlada mengaku hingga saat ini soal pemasaran belum mengalami kendala berarti. Rata-rata pembeli yang datang padanya selalu membayar kontan. Bahkan, mereka yang pesan dalam jumlah banyak terlebih dulu memberikan uang muka.

“Model yang banyak dipesan adalah Obama berkualitas bagus. Biasanya untuk seragam. Karena itu saya membuatnya sebaik mungkin menggunakan bahan-bahan yang bagus pula. Saya tak ingin pembeli kecewa. Apalagi yang beli di sini rata-rata pejabat,” ujarnya.
Disampaikan pula, dalam hal pemasaran ia juga memperoleh bantuan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Demak. Ketua Dekranasda Demak Ny Hermini TZ bukan hanya mempromosikan tenun buatannya ke para PNS, namun juga membeli puluhan lembar untuk seragam pengurus TP PKK Kabupaten Demak. 

“Dekranasda juga sudah meminta saya untuk siap-siap diikutkan ke pameran. Mudah-mudahan dengan bantuan Dekranasda usaha saya ini bisa lebih berkembang,” kata Ahlada.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Demak Ny Hermini TZ mengatakan, selain membantu dalam hal promosi, pihaknya juga memberikan pembinaan terhadap para pelaku usaha. Langkah itu dilakukan bekerja sama dengan dinas instansi terkait.

“Dekranasda juga memfasilitasi pendirian shorum produk kerajinan di Mranggen. Di dalam bangunan bernilai ratusan juta itu, berbagai produk lokal kita pamerkan. Mulai produk yang berbentuk handicraft, busana hingga ukir-ukiran hasil karya perajin dari 14 kecamatan semuanya ada. Kamipun akan memamerkan tenun buatan warga Tedunan,” kata Ny Hermini TZ.  (Anang)