Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

A. Budaya Grebeg Besar

A. Budaya Grebeg Besar
Bentuk keramaian yang dikenal dengan nama GREBEG BESAR adalah murni hasil ciptaan para wali. Pelaksanaannya dimulai setelah walisongo angkatan I mengadakan siding di serambi Masjid Agung Ampel Dento Surabaya, keputusannya sebagai berikut :

“NGENANI ANANE SOMAWONO KIPRAH MEKARE TSAQOFAH HINDU ING NUSA SALALADANE, JUWAJIBAN PORO WALI AREP ALAKU TUT WURI ANGISENI. DARAPUN SUPOYO SANAK-SANAK HINDU MALAH LEGO-LEGOWO MANJING ISLAM.

Artinya : Dengan adanya perkembangan ajaran Hindu di pulau wilayah ini, tugas para wali dakwah menyesuaikan adat istiadat setempat sambil mengisi nafas Islam, agar supaya masyarakat Hindu hatinya rela dan tulus ikhlas masuk Islam.


Keputusan siding ditulis Sunan Bonang dengan Huruf Arab Gondil, bentuknya notulen singkat. Pada tahun 1938 M, masih tersimpan di dalam mushola Astana Tuban dirawat oleh juru kunci yang bernama Raden Panji Soleh.

Sejak itu, Sunan Kaljaga mulai bertindak sebagai pelopor pembaharuan (Reformis) dalam menyiarkan agama Islam. Untuk mengimbangi kepentingan masyarakat, beliau ciptakan jenis kesenian baru yang disebut Wayang Purwo (wayang kulit). Semua jenis kesenian rakyat yang hampir mati karena Majapahit runtuh, dibangkitkan supaya hidup kembali. Tujuannya untuk mencari simpati masyarakat dan jangan sampai terjadi shock culture pada orang-orang yang sudah kuat religinya dengan agama tertentu. Hal itu dibenarkan juga oleh Dr. W.F Stutterheim dalam tulisannya “Culture Geschidenis Van Indonesia”.

Pada zman kejayaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi Brawijaya V, pernah mengadakan upacara Sradha dibuat spektakuler. Sebab upacara tersebut dibunyikan gamelan Prabu Kertabhumi Brawijaya V yang bernama Kanjeng Kyai Sekar Delima.Dulu dibuat oleh Raden Panji Inu Kerta Pati (Panji Semirang) dari kerajaan Jenggala secara turun temurun menjadi milikr raja-raja Majapahit.
Setelah Majapahit runtuh, semua benda pusaka milik Prabu Kertabhumi Brawijaya V diboyong ke Demak. Termasuk gamelan Kanjeng Kyai Sekar Delima yang terdiri dari : “ Bonang Sapangkon, Demung dua pangkon, Kempyang Sepangkon, Saron Barung dua pangkon, Saron Penerus dua pangkon, bedhug satu buah, dan Gong Besar Sakti”.

Apabila gamelan itu ditabuk/dibunyikan, Bonang menggambarkan sorang imam yang berdo’a, sedangkan Demung, Kempyang, Saron, dan lain-lainnya menggambarkan makmum yang sedang meng-amin-I (membaca Amin).

Supaya da’wahnya para wali di dalam menyiarkan Islam dapat menarik perhatian umum, gamelan Kanjeng Kyai Sekar Delima dimanfaatkan. Tetapi sudah dilengkapi dengan seperangkat gamelan baru yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Lalu gamelan dibagi menjadi dua perangkat, yang seperangkat dinamakan Kajeng Kyai Sekati dan seperangkatnya lagi dinamakan Kanjeng Nyai Sekati. Menurut wasiat Sunan Kalijaga, bahwa sampai kapanpun keberadaan gamelan tersebut harus sejodho (sepasang). Oleh karena itu, Keraton Kasunanan Surakarta yang hanya menerima pembagian gamelan Kanjeng Kyai Sekati, lalu membuatkan pasangan baru (duplikat gamelan Kanjeng Kyai Sekati) dan diberi nama “Guntur Madu” yang biasanya terletak di serambi masjid bagian selatan dan “Guntur Sari” yang ada di bagian utara.
Begitu pula, untuk Keraton Kasultanan Yogyakarta, oleh karena hanya menerima gamelan Kanjeng Nyai Sekati, lalu membuatkan pasangannya (duplikat Kanjeng Kyai Sekati), namanya Guntur Madu dan Nogo Wilogo.

Untuk Kasultanan Cirebon yang tidak mendapatkan gamelan Kyai Sekati kemudian dibuatkan oleh Sunan Kalijaga yang kebetulan masih ada ikatan keluarga dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon.
B. Grebeg Besar dan Sejarahnya
Kata bahasa Jawa Garebeg, Grebeg, Gerbeg, bermakna : suara angin yang menderu. Kata bahasa Jawa (h) anggarebeg, mengandung makna mengiring raja, pembesar atau pengantin. Grebeg bisa juga diartikan digiring, dikumpulkan, dan dikepung. Jadi grebeg bisa berarti dikumpulkan dalam suatutempat untuk kepentingan khusus. Adapun Grebeg Besar seremonial yang terkenal di Demak, kata “Besar” adalah mengambil nama bulan yaitu bulan Besar (Dzulhijah).

Maka makna Grebeg Besar adalah kumpulnya masyarakat Islam pada bulan Besar, sekali dalam setahun yaitu untuk suatu kepentingan da’wah Islamiyah di Masjid agung Demak.
Cerita tutur mewartakan bahwa dahulu kala para raja Jawa selalu menyelenggarakan selamatan kerajaan (bahasa Jawa = wilujengan nagari) setiap tahun baru dan disebut Rojowedo, artinya kitab suci raja atau kebajikan raja. Disebut pula, ada yang mengatakan Rojomedo, artinya hewan korban kerajaan.
Tujuan selamatan kerajaan yang hakikatnya adalah suatu cara korban agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan perlindungan, keselamatan kepada raja dan kerajaan serta rakyatnya.
Dalam peristiwa itu, rakyat datang menghadap raja untuk menyampaikan sembah baktinya. Raja keluar dari keratin lalu duduk di singgasana keemasan (bahasa jawa=dhampar kencono) di bangsal Ponconiti. Penampilan raja untuk menerima sembah bakti rakyat yang datang mengahadap (bahasa jawa=sowan), diiringi (bahasa jawa=ginarebeg) oleh para putra dan segenap punggawa Keraton.
Dalam Babad Jawa Jaka Tingkir dijelaskan: Sudah menjadi kelaziman pada setiap peringatan Maulid Nabi selalu diadakan pembacaan riwayat Nabi, pembacaan syair lagu-lagu yang merdu silih berganti. Seusai peringatan, dilanjutkan musyawarah antara Sultan Demak dan para Wali Agung, kemudian dilanjutkan tahlilan dan akhirnya santap bersama.

Keesokan harinya diadakan upacara grebegan, Sultan Demak mengadakan paseban di setinggil Demak.
Dalam grebegan tadi, Sultan di singgasana Manikwungu menghadap ke utara, kiri kanan Sultan duduk para wali pawingking, para pandhita berada di Masjid sedangkan para Ulama, abid (orang yang ahli ibadah), sulaka (salik yaitu orang yang meng-fokuskan hidupnya hanya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT), puhaka (ahli fiqih/syariat Islam) berada di serambi masjid dan halaman. (Babad Jaka Tingkir, 1981:78)
Tak lama setelah Raden Fatah dinobatkan menjadi Sultan pertama kasultanan Demak dengan gelar Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panatagama, baginda langsung menghapuskan adat menyelenggarakan upacara kurban yang selalu dilakukan oleh para raja Jawa-Hindu terdahulu. Sebab adat yang seperti itu, dinilai bertentangan dengan aqidah Islam.
Penghapusan adat itu menimbulkan keresahan sebagian kalangan rakyat, sebab rakyat yang selama berabad-abad turun-temurun sudah terbiasa hidup dengan adat dari kepercayaan lama, belum dapat menerima sikap rajanya yang baru itu. Keresahan tersebut menimbulkan gangguan keamanan Negara, sebab khawatir timbul wabah penyakit menular.

Atas saran para wali, adat kepercayaan lama itu agar dihidupkan kembali, namun diberi warna keislaman yaitu hewan kurban disembelih menurut aturan agama Islam.
Awal dan akhir doa selamatan berupa do’a Islam yang dipanjatkan oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang.
Para wali giat berda’wah, penyebaran agama Islam awalnya tidak banyak mengalami kemajuan. Hal ini bisa dilihat dengan masih sedikitnya jumlah santri. Sebagian besar rakyat terutama masyarakat pedesaan enggan untuk mengucapkan syahadat sebgai pernytaan memeluk agama Islam.
Akhirnya para wali bermusyawarah, dan mereka sependapat untuk menginsyafkan rakyat akan kebenaran ajaran agama Islam, haruslah dilakukan secara bertahap, dengan penuh kearifan, bersikap sopan santun, ramah tamah dalam berda’wah dan tanpa mencela adat serta unsur-unsur kebudayaan rakyat bahkan seharusnya memanfaatkan unsur-unsur kebudayaan rakyat sebagai sarana da’wah, terutama dengan, dengan memanfaatkan bahasa, adat-istiadat dan kesenian rakyat. Para wali menemukan taktik da’wah “TUT WURI ANGISENI” Artinya memakai dan menghormati kebudayaan yang ada, untuk memudahkan syiar agama Islam. Istilah lainnya, JOWO DIGOWO, ARAB DIGARAP.
Sunan Kalijaga mengetahui bahwa pada waktu itu rakyat menyukai perayaan dan keramaian yang dihubungkan dengan upacara keagamaan. Apalagi jika perayaan dan keramaian  ada juga irama gamelannya, tentu saja akan sangat menarik perhatian rakyat untuk datang melihatnya. Akhirnya timbullah gagasan Sunan Kalijaga supaya kerajaan menyelenggarakan perayaaan dan keramaian setiap menyongsong hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal.
Untuk menarik perhatian rakyat agar mau datang ke Masjid Besar, maka dibunyikanlah gamelan yang ditempatkan di halaman masjid. Setelah berkumpul maka para wali dapat berda’wah langsung dihadapan rakyat.

Meski membunyikan gamelan di lingkungan masjid itu ada yang menghukumi makruh, namun dengan menggunakan azas manfaat dan hikmah demi kelancaran syiar Islam, maka Sunan Kalijaga dari ijtidahnya, berani menghukumi mubah/boleh dikerjakan. Pendapat Sunan Kalijaga itu dapat diterima majelis Walisongo. Sultan Fatah pun akhirnya menyetujui pelaksanaan gagasan Sunan Kalijaga.
Maka dalam bulan Rabiul Awal, 12 (dua belas) hari sebelum kelahiran Nabi, diselenggarakan perayaan dan keramaian yang disebut Sekaten. Di halaman Masjid Besar didirikan tempat khusus untuk menaruh dan membunyikan gamelan yang disebut pagongan. Pagongan adalah tempat gong (gamelan) yang dibuat oleh Sunan Giri. Konon sebagian dari gendhing-gendhing (lagu) gamelan diciptakan oleh Sunan Giri dan sebagian lagi oleh Sunan Kalijaga.

Selama 12 hari (dua belas) hari gamelan diperdengarkan terus menerus, kecuali pada waktu-waktu sholat dan pada malam jum’at sampai lewat sholat Jum’at.
C. Tradisi Grebeg Besar
Grebeg Besar dan Sejarah Kota Wali tak bisa disangkal lagi jika membuat orang Demak akan membanggakan dirinya sebagai warga Kota Wali. Catatan sejarah Kabupaten Demak memang tidak lepas dari perjuangan para wali (walisongo) dalam kegiatan menyebarkan agama Islam pada abad XV, yaitu keberadaan Demak sebagai pusat kerajaan Islam (Kasultanan Bintoro) di Pulau Jawa dengan ”masterpieces”nya adalah Sunan Kalijaga dan Sultan Fatah yang diakui merupakan tokoh-tokoh besar dan berpengaruh dalam lintas sejarah Kabupaten Demak.

Tidaklah mengherankan jika kemudian beragam acara ritual yang dimulai atau diperkenalkan oleh kedua tokoh tersebut masih berlangsung sampai saat ini dan menjadi semacam upacara ritual yang selalu dinantikan orang, tidak hanya oleh para warga kota wali sendiri tetapi juga dari luar daerah.
Pada masa Sunan Kalijaga menjadi penasihat spiritual Sultan Bintoro, khususnya pada masa emas kejayaan pemerintahan Sultan Fatah. Beliau antara lain menyelenggarakan Grebeg Besar sebagai media da’wah. Tradisi ini diselenggarakan tiap tanggal 10 Dzulhijjah bersama dengan datangnya peringatan Hari Raya Idul Adha (Qurban).

Hanya saja sebetulnya Grebeg Besar ini pada masa pertama kalinya mulai dilaksanakan di Demak, tidak hanya sekali setahun pada saat Idul Adha. Tetapi memang menurut catatan sejarahnya, semula tradisi Grebeg Besar ada empat, yaitu Grebeg Maulid, Grebeg Dal, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar.
Adapun sampai kini masih berlangsung di Demak adalah Grebeg Besar. Sementara di luar Grebeg besar yang kini masih dilestarikan adalah di kerajaan Solo, Yogyakarta dan Cirebon.
Adapun Grebeg Besar sampai sekarang masih menjadi bagian dari tradisi bernilai jual (selling point)n yang rutin diselenggarakan, tampaknya dipengaruhi oleh beberapa factor utama yaitu sosio-ekonomi-religi.
D. Tata Cara Perayaan Grebeg Besar

Acara Grebeg Besar Demak mempunyai urutan tata cara perayaan sebagai berikut :
1. Diawali dengan saling bersilaturahmi antara pihak Kasepuhan Kadilangu dengan Bupati dan Wakil Bupati Demak, beserta jajaran Muspida Demak. Bupati Demak bersama rombongan bersilaturahmi ke Kasepuhan Kadilangu yang ditempatkan di Pendopo Noto Bratan Kadilangu Demak. Selanjutnya, sesepuh Kadilangu dan keluarga Kasepuhan bersilaturhmi ke Kabupaten Demak dan biasanya mereka diterima Bupati di ruang tamu Kadipaten Demak.

2. Setelah silaturahmi, Bupati, Wakil Bupati, DPRD, Muspida Demak dan jajaran pemerintah Kabupaten Demak ziarah ke makam-makam leluhur Sultan Bintoro di kompleks Masjid Agung Demak, dan dilanjutkan ziarah ke makam Sunan Kalijaga.

3. Kemudian Bupati, Wakil Bupati, DPRD, Muspida Demak meresmikan pembukaan keramaian Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah.

4. Pada malam menjelang Idul Adha diadakan upacara Tumpeng Walisongo/Sembilan yang menggambarkan jumlah 9 wali (walisongo), diserahkan Bupati Demak kepada Takmir Masjid Agung Demak untuk dibagikan kepada para pengunjung.

5. Tepat pada tangaal 10 Dzulhijjah diadakan acara penjamasan Kotang Ontokusumo yang dimulai setelah selesai Sholat Idul Adha. Penjamasan dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak dengan penyerahan minyak jamas oleh Bupati kepada Manggala Prajurit yang akan membawanya ke Kadilangu dengan dikawal prajurit patang puluhan yang berjalan kaki dengan berjarak 2 Km. Bupati sekeluarga beserta para pejabat Pemerintah kabupaten Demak turut mengantar minyak jamas dengan menaiki kereta Kencana. Sesampainya di Kadilangu, minyak jamas diterima oleh Sesepuh Kadilangu selanjutnya digunakan untuk menjamas Kotang Ontokusumo dan Keris Kyai Crubuk.
Sumber: Matahari Terbit di Glagahwangi, 2006

Selasa, 27 November 2012

SYAWALAN

SYAWALAN

Syawalan atau sedekah laut merupakan tradisi yang selalu dilakukan masyarakat pesisir setiap bulan Syawal atau tepatnya 7 hari setelah Idul Fitri.
Kegiatan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah keselamatan dan hasil laut yang telah dilimpahkan. Melalui kegiatan ini, masyarakat pesisir berharap tangkapan pada tahun-tahun mendatang terus membaik dan selalu diberkati keselamatan.

Dikabupaten Demak, pelaksanaan tradisi syawalan dipusatkan di Pantai Morodemak, Kecamatan Bonang.
Puncak kegiatan ini adalah larung sesaji oleh bupati yang didampingi muspida dan pemuka masyarakat setempat. Bupati melepas dan melarung sesaji berupa pucuk tumpeng yang telah dipotong. Pemotongan tumpeng dilakukan di atas perahu.
Tradisi syawalan selalu dimeriahkan dengan pesta rakyat dan berbagai kegiatan hiburan, sebelum atau sesudah acara puncak.

GREBEK BESAR




 Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.
Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga, bahkan salah satu wali tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.
Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada.
Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saati ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.

Prosesi Grebeg Besar Demak
  • Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak & Sunan Kalijaga
Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, masing-masing beserta istri/suami, ke makam Sultan-Sultan Demak dilingkungan Masjid agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 WIB; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.

 
  • Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah
Untuk meramaikan perayaan Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah digelar pasar malam rakyat yang dimulai kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum hari raya Idul Adha dan dibuka oleh Bupati Demak setelah ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga.




Pasar malam tersebut dipenuhi dengan berbagai macam dagangan, mulai dari barang barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan mainan anak, hasil kerajinan, makanan/minuman, permainan anak-anak dan juga panggung pertunjukkan /hiburan.
  • Selamatan Tumpeng Sanga
Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Adha bertempat di Masjid Agung Demak. Sebelumnya kesembilan tumpeng terebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak. Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga. Selamatan ini dilaksanakan dengan harapan agar seluruh masyarakat Demak diberikan berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT. Acara selamatn tersebut diawali dengan pengajian umum diteruskan dengan pembacaan doa. Sesudah itu kepada para pengunjung dibagikan nasi bungkus. Pembagian nasi bungkus tersebut dimaksudkan agar para pengunjung tidak berebut tumpeng sanga. Sejak beberapa tahun terakhir tumpeng sanga tidak diberikan lagi kepada para pengunjung dan sebagai gantinya dibagikan nasi bungkus tersebut.




Pada saat yang sama di Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa, yaitu Selamatan Ancakan, selamatan terebut bertujuan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh anggota Panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan lancar tanpa halangan suatu apapun juga serta untuk menghormati dan menjamu para tamu yang bersilaturahmi dengan sesepuh.
  • Slolat Ied
Pada tanggal 10 Dzulhijah Masjid Agung dipadati oleh umat Islam yang akan melaksanakan Sholat Ied, pada saat-saat seperti ini Masjid Agung Demak sudah tidak dapat lagi menampung para jamaah, karena penuh sesak dan melebar ke jalan raya, bahkan sebagian melaksanakan sholat di alun-alun. Pada kesempatan tersebut Bupati Demak beserta Muspida melaksanakan sholat di Masjid Agung Demak dan dilajutkan dengan penyerahan hewan qurban dari Bupati Demak kepada panitia.
  • Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga
Setelah selesai Sholat Ied di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk. Konon Kutang Ontokusumo adalah berujud ageman yang dikiaskan pegangan santri yang dipakai sunan kalijaga setiap kali berdakwah.
Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat sunan kalijaga sebagai berikut””agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan engkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise uku kukut, agemanku jamas ana.” Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.
Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan “Manunggale kawula lan gusti”, yang dibawakan oleh 9 (sembilan) remaja putri. Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak. Bersamaan dengan itu Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.
Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dilaksanakan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Kalijaga Kalijaga. Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran agama Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebar luaskan oleh Sunan Kalijaga adalah benar. Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati.
Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar DemaK.

KESENIAN BARONG DAN KUDA LUMPING

KESENIAN BARONG DAN KUDA LUMPING


Kesenian Barong Demak memang memiliki ke-khas-an tersendiri. Selain dari pakem ceritanya, yang membedakan barong Demak dengan lainnya nampak dari pakaian yang dikenakan.



Barong Demak menceritakan kaum ulama pada saat membuka hutan Glagah Wangi. Pada waktu itu kaum ulama memperoleh perlawanan dari siluman penghuni hutan. Namun akhirnya, siluman itu berhasil dikalahkan dan justru mau diajak bersatu untuk menjadikan hutan sebagai cikal bakal Kerajaan Demak Bintoro.

Sedangkan dari segi pakaian, Barong Demak lebih menonjolkan unsur batik khas pesisiran. Motif batik pesisiran khas Demak yang biasa dipakai para pemain barong meliputi ulam segaran, semangka tegalan dan tiga rangsik. Semua motif itu rata-rata memiliki warna cerah mencolok.

KESENIAN KENTRUNG DAN TARI YAPING


KESENIAN KENTRUNG DAN TARI YAPING

Seni kentrung atau kentrungan biasanya dimainkan pada saat hari-hari besar Islam, kawinan, khitanan, atau acara besar lainnya. Kesenian ini dimainkan dengan seperangkat alat musik yang terdiri dari gendang ,rebana, ketipung, serta jidur. Kesenian ini berisikan cerita-cerita para nabi, wali, serta lagu-lagu Islam.


Zapin atau zipin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari Arab. Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan dan diiringi alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas.

Dahulu zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.